Selasa, 22 Desember 2009

HUBUNGAN TARI DENGAN BEBERAPA FAKTOR

1. Hubungan Tari Dengan Likungan Sosial


Manusia adalah makhluk hidup yang dapat dilihat dari dua sisi, yaitu sebagai makhluk biologis dan makhluk sosial. Sebagai makhluk biologis, makhluk manusia atau “homo sapiens”, sama seperti makhluk hidup lainnya yang mempunyai peran masing-masing dalam menunjang sistem kehidupan. Sebagai makhluk sosial, manusia merupakan bagian dari sistem sosial masyarakat secara berkelompok membentuk budaya. Kehidupan adalah fenomena atau perwujudan adanya hidup, yang didukung tidak saja oleh makhluk hidup (biotik), tetapi juga benda mati (abiotik), dan berlangsung dalam dinamikanya seluruh komponen kehidupan itu. Ada perpaduan erat antara yang hidup dengan yang mati dalam kehidupan. Mati adalah bagian dari daur kehidupan yang memungkinkan terciptanya kehidupan itu secara berlanjut. Lingkungan hidup adalah suatu konsep holistik yang berwujud di bumi ini dalam bentuk, susunan, dan fungsi interaktif antara semua pengada baik yang insani (biotik) maupun yang ragawi (abiotik). Keduanya saling mempengaruhi dan menentukan, baik bentuk dan perwujudan bumi di mana berlangsungnya kehidupan yaitu biosfir maupun bentuk dan perwujudan dari kehidupan itu sendiri, seperti yang disebutkan dalam hipotesa Gaia. Lingkungan hidup yang dimaksud tersebut tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, oleh karena itu yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah lingkungan hidup manusia.

Belum ada definisi tentang lingkungan sosial budaya yang disepakati oleh para ahli sosial, karena perbedaan wawasan masing-masing dalam memandang konsep lingkungan sosial budaya. Untuk itu digunakan definisi kerja lingkungan sosial budaya, yaitu lingkungan antar manusia yang meliputi: pola-pola hubungan sosial serta kaidah pendukungnya yang berlaku dalam suatu lingkungan spasial (ruang); yang ruang lingkupnya ditentukan oleh keberlakuan pola-pola hubungan sosial tersebut (termasuk perilaku manusia di dalamnya); dan oleh tingkat rasa integrasi mereka yang berada di dalamnya.

Oleh karena itu, lingkungan sosial budaya terdiri dari pola interaksi antara budaya, teknologi dan organisasi sosial, termasuk di dalamnya jumlah penduduk dan perilakunya yang terdapat dalam lingkungan spasial tertentu.
Lingkungan sosial budaya terbentuk mengikuti keberadaan manusia di muka bumi. Ini berarti bahwa lingkungan sosial budaya sudah ada sejak makhluk manusia atau homo sapiens ini ada atau diciptakan. Lingkungan sosial budaya mengalami perubahan sejalan dengan peningkatan kemampuan adaptasi kultural manusia terhadap lingkungannya.

Manusia lebih mengandalkan kemampuan adaptasi kulturalnya dibandingkan dengan kemampuan adaptasi biologis (fisiologis maupun morfologis) yang dimilikinya seperti organisme lain dalam melakukan interaksi dengan lingkungan hidup. Karena Lingkungan hidup yang dimaksud tersebut tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, maka yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah lingkungan hidup manusia. Sehingga hubungan antara tari dengan likungan sosial sangat erat dimana tari sering dijadikan sebagai alat interaksi antar manusia yang satu dengan yang lain, dijadikan hiburan, tontonan dan bahkan dalam pembelajaran.

2. Hubungan Tari Dengan agama


Agama, Budaya dan Masyarakat jelas tidak akan berdiri sendiri, ketiganya memiliki hubungan yang sangat erat dalam dialektikanya; selaras dalam menciptakan ataupun kemudian saling menegasikan.

Proses dialektika yang berjalan menurut Berger, dialami agama dengan tiga bentuk. Pertama, energi eksternalisasi yang dimiliki individu dalam bermasyarakat kemudian membentuk sebuah bentuk kedua, Objektivasi atas kreasi manusia dan akhirnya berputar kembali dalam bentuk ketiga, dengan arus informasi yang menginternalisasi kedalam individu-individu. Dalam dialektika ini, bukan berarti stagnan. Hasil eksternalisasi yang ter-Objektivikasi selalu mengalami perkembangan, manusia tidak pernah puas atas hasil yang telah dicapai. Dalam pandangan yang Idealis atu perspektif, manusia memiliki pengandaian yang normatif yang selalu tidak berhenti dengan satu ciptaan. Ketidak terjebakan manusia dalam imanensi dan selalu berhadapan dengan keabsurdan membuat manusia –dan Agama yang juga berada dalam dialektika ini akhirnya bersifat dinamis. Begitu juga budaya, proses dialektika yang dialami bersama Agama tidaklah jauh berbeda bahkan sama. Tiga bentuk; Eksternalisasi, Objektivikasi dan Internalisasi juga merupakan proses bagaimana budaya terbentuk dan bagaimana ia berhubungan dengan Agama.
Saat Budaya ataupun Agama dianggap sebagai an sich, manusia terlahir di dunia mau tidak mau harus menerima warisan sebuah ide-ide, sistem tingkah laku, dan artefak yang sebelumnya telah ada. Berbeda dengan ketika budaya ataupun agama dimaknai sebagai proses, keduanya dipandang dalam bentuk kontinyuitas perkembangan, kebangkitan, dan keruntuhan sutau kebudayaan.

Kebudayaan dan Agama sebagai proses adalah realitas yang tidak terhenti satu jejak saja. Fluiditas keduanya merupakan jejak nostalgia dari sebelumnya untuk titik tolak menuju jejak berikut yang bersifat menambahi, merubah atau bahkan meniadakan. Jadi hubungan tari dengan agama adalah tari sering digunakan oleh masyarakat pada zaman dahulu dan sekarang dalam ritual keagamaan, contphnya seperti di Bali tari rejang dewa hanya ditarikan oleh remaja atau anak wanita kecil yang masih perawan dan contoh – contoh lainnya.


3. Hubungan Tari Dengan pendidikan

Seperti yang kita ketahui bahwa seni tari dan seni musik termasuk dalam mata pelajaran di sekolah-sekolah. Hal ini menunjukan adanya hubungan antara tari dan dunia pendidikan. Kesenian khususnya tari digunakan untukk menyeimbangkan antara otak kanan dan otak kiri, selain itu kesenian dijadikan mata pelajaran juga untuk meletarikan budaya bangsa kita. Kemampuan seni tari salah satunya adalah aspek penting dalam kehidupan. Demikian pada pembelajaran merupakan ranah kognitif meliputi kemampuan menghapal, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Kemampuan psikomotor, yaitu keterampilan yang berkaitan dengan gerak, menggunakan otot seperti lari, melompat, menari, melukis, berbicara, membongkar dan memasang peralatan, dan sebagainya. Kemampuan afektif berhubungan dengan minat dan sikap yang dapat berbentuk tanggung jawab, kerjasama, disiplin, komitmen, percaya diri, jujur, menghargai pendapat orang lain, dan kemampuan mengendalikan diri. Semua kemampuan ini harus menjadi bagian dari tujuan pembelajaran di sekolah, yang akan dicapai melalui kegiatan pembelajaran yang tepat.

Masalah afektif dirasakan penting oleh semua orang, namun implementasinya masih kurang. Hal ini disebabkan merancang pencapaian tujuan pembelajaran afektif tidak semudah seperti pembelajaran kognitif dan psikomotor. Satuan pendidikan harus merancang kegiatan pembelajaran yang tepat agar tujuan pembelajaran afektif dapat dicapai. Keberhasilan pendidik melaksanakan pembelajaran ranah afektif dan keberhasilan peserta didik mencapai kompetensi afektif perlu dinilai. Oleh karena itu perlu dikembangkan acuan pengembangan perangkat penilaian ranah afektif serta penafsiran hasil pengukurannya.


4. Hubungan Tari Dengan Politik


Tubuh tari adalah wilayah kontestasi politik di mana identitas dibentuk dan diformulasikan banyak kepentingan ideologi di luar tubuh, baik di tingkat lokal, internasional, maupun pasar. Untuk kepentingan itu, tari dipisahkan dari sejarah tubuh. Dalam konteks Indonesia, Diyah Larasati (39), penari-akademisi dari Universitas Minnesota, Minneapolis, AS, menengarai, tari dibiarkan terus hidup, dipertahankan, bahkan dilindungi atas nama kebudayaan nasional, tetapi dilakukan tubuh-tubuh yang terpisah sama sekali dari sejarah realitas. Karena itu ia menolak mendikotomikan tarian tradisional dan kontemporer, tarian keraton dan tarian rakyat, karena semua menyangkut politik tubuh yang terselubung di dalam tarian tersebut. Penggunaan istilah modern atau kontemporer sebagai retorika dapat terkait dengan ruang wacana politik dominan, tegas dia.

Hal senada dinyatakan Ananya Chatterjea (42), penari-akademisi asal India dari universitas yang sama. Menurut dia, tubuh tari dari Timur senantiasa dimaknai Barat sebagai sesuatu yang tampaknya memenuhi hasrat mereka akan kerinduan dunia yang jauh di sana, dunia yang senantiasa statis dan penuh harmoni. Tubuh tari terlepas dari sejarah dan realitas sosial yang melingkupinya. Martha E Savigliano dari Departemen Tari Universitas California Riverside mempertanyakan hal yang sangat mendasar dari seluruh kegiatan ini: atas keinginan siapa diskusi tari kontemporer Asia ini dilakukan, wacana seperti apa yang akan berkaitan bila kita melokasikan tari-tari Asia dan berdasarkan peta dunia siapa yang akan dinavigasikan, masalah apa yang hendak dipaparkan dan dari siapa.
Mendengarkan pemaparan mereka, tak sulit menyimpulkan, tari sebenarnya berada dalam lintasan beragam kajian. Di dalamnya terdapat berbagai isu yang melibatkan situasi di luar seni (tari), tetapi sekaligus berkelindan dengan penciptaan dan pencitraan terhadap tubuh tari. Seni modern pada abad ke-20 ditandai dengan munculnya kreasi baru para seniman yang menantang ide lama melalui pekerjaan artistik mereka. Namun, kajian mendalam mengenai tari cenderung lambat mengejar wacana lebih luas. Malah, di Asia, hampir tak ada upaya yang dilakukan untuk mengomunikasikan temuan dan pemikiran secara lintas negara.

Persoalan tari dan politik identitas menjadi bagian sangat penting dalam lokakarya internasional Memetakan Wacana: Tari Kontemporer di Asia di Yogyakarta, 28-29 Maret 2008. Lokakarya yang diselenggarakan Kunci Cultural Studies, Universitas Sanata Dharma, dan Universitas Roehampton, London, itu diikuti penari-akademisi dari Inggris, Argentina, Taiwan, AS, Indonesia, Malaysia, dan India. Lokakarya ini sangat penting untuk memahami, tari bukan sekadar gerakan estetis tubuh. Ruang itu merupakan wilayah pertarungan makna yang dahsyat, terkait dengan konteks politik, ekonomi, dan sosial dari tingkat lokal, nasional, regional, sampai internasional. Yang terkuat adalah yang dominan dan dengan demikian juga menguasai definisi atas yang lemah.
Dalam sejarah perkembangan tari, mempelajari teknik tari merupakan langkah awal seorang penari dalam belajar tari. Dalam berbagai keadaan, mempelajari seni tari baik tradisi maupun nontradisi banyak membantu keterampilannya terutama untuk menjadi penari, sehingga bentuk tari apapun yang diperagakan harus dapat dikuasai dengan baik.

Selanjutnya, sikap profesional penguasaan teknik tari bentuk tari-tarian Nusantara yang dipelajari harus dapat dikuasai secara sempurna, sehingga keprofesionalannya menjadi bagian penting dalam kehidupan yang bersangkutan. Ditinjau secara kenyataan, kemampuan dan keterampilan memperagakan tari berdasarkan pada tingkat kesulitan melakukan gerak, adaptasi budaya tarian tersebut dan kesanggupan melakukan pendekatan budayanya menjadi indikator pemahaman spesifikasi tarian dalam kaitannya dengan wiraga, wiramadan wirasa tari.

Profesionalisme yang bersangkutan dapat tercermin secara jelas oleh penari pada saat memperagakan tari secara terampil dan luwes. Faktor kepenarian yang berkembang dewasa ini, telah dirujuk menjadi salah satu bentuk kompetensi tari. Sikap profesional dalam menunjukan kemampuan menari yang diberi judul standarisasi kepenarian. Beberapa kompentensi mengenai profesional kepenarian yang telah distandarisasi dinyatakan dalam tahapan kemampuan menari secara profesional yang dapat ditunjukan oleh seseorang yang telah menduduki level profesional dalam jenis tari mancadaerah di Indonesia.


5. Hubungan Tari Dengan Ekonomi

Tidak dapat dipungkiri bahwa tari dewasa ini telah menjadi sumber penghasilan yang cukup bernilai ekonomis. Baik tarian modern maupun tradisional, kedua-duanya mampu memberikan nilai ekonomis yang cukup menjanjikan. Hal ini dapat kita lihat dengan banyaknya berdiri sanggar-sanggar tari maupun kursus-kursus tari/dance yang kemudian banyak digunakan jasanya untuk mengisi suatu acara ataupun suatu pertunjukan yang tentunya mendapatkan fee dari kegiatan tersebut.

Tari juga merupakan sumber devisa negara yang secara tidak langsung telah membantu memberikan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk datang dan berkunjung serta membayar untuk dapat menikmati keindahan suatu tarian. Dengan adanya tarian-tarian tradisional maka nilai kebudayaan nasional juga semakin kaya dan beragam sehingga pariwisatapun menjadi semakin menarik dan mampu bersaing dengan negara-negara lain di dunia. Dengan demikian terlihat jelaas hubungan antara tari dengan ekonomi dimana dengan tari maka ekonomipun dapat ditingkatkan.

Seperti contoh suksesnya pariwisata di Bali tidak lepas dari kekayaan tarian di daerah tersebut. Bali menjadi suatu tujuan wisata yang cukup baik dan cukup bernilai dan sangat mampu bersaing untuk menarik wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan asing sehingga nilai devisa yang disumbangkan pun jauh lebih banyak. Dengan demikian mungkin suatu saat nanti pemerintah dapat memanfaatkan dengan lebih baik lagi agar tari dapat menjadi sumber ekonomi yang dapat membantu kondisi ekonomi negara kita.


6. Hubungan Tari Dengan Kesehatan


Secara umum semua kegiatan berkesenian mempunyai manfaat yang sama, yakni rekreatif. Dengan berkesenian, baik sebagai pelaku maupun sebagai penikmat, setiap orang akan mendapat hiburan. Seni tari merupakan seni yang mampu memberikan manfaat ganda baik bagi pelaku maupun penikmatnya.

Bagi pelakunya, seni tari selain bermanfaat memberi hiburan, juga menjadi kegiatan berolahraga. Menari merupakan kegiatan olahraga kebugaran. Bagi penikmatnya, seni tari memberikan hiburan, inspirasi, dan berbagai manfaat lainnya. Ada lima unsur yang menjadi dasar untuk menilai indahnya sebuah pertunjukan tari. Unsur pertama adalah wiraga, yakni kesuaian antara jenis tarian dengan umur dan fisik penarinya, misalnya, “tari kelinci” lebih cocok dimainkan oleh anak-anak, atau “tari kendi” sangat bagus dimainkan oleh gadis cilik.
Unsur kedua adalah wirama, yakni kesesuaian antara irama lagu atau musik pengiring dengan gerak tari. Tarian yang sigrak atau yang bersifat atraktif dan dinamis sangat cocok diiringi dengan lagu bernuansa gembira dengan tempo yang cepat. Sebaliknya, tarian yang bernuansa romantis atau melankolis lebih cocok diiringi dengan lagu yang syahdu dan musik bertempo lambat. Unsur ketiga adalah wirasa, yakni penghayatan yang dilakukan oleh penari terhadap materi dan jenis tarian. Menari bukan sekadar menggerakkan anggota tubuh, melainkan mengekspresikan nilai seni atau keindahan melalui bahasa gerak, bahasa tubuh, dan bahasa mimik.

Unsur keempat adalah wicitra, yakni bagaimana keseluruhan gambaran yang dapat diperlihatkan sebagai sebuah keutuhan karya seni. Unsur keempat ini dibangun dengan padupadan dari tata rias, kostum, tata lampu, dan tata pangung. Unsur kelima adalah konteks, yakni hubungan pertunjukan dengan dengan momen atau acara tertentu. “Tari karonsih”, misalnya, sangat sesuai disuguhkan dalam acara resepsi pernikahan karena tarian ini menggambarkan sepasang kekasih yang sedang bercengkerama dalam percumbuhan yang penuh kasih dan romantis.

Begitulah lima unsur keindahan tari. Sebagai tambahan, barangkali ada baiknya disinggung sedikit tentang perbedaan antara tari dan joget. Tari itu unsur pertama dan utamanya adalah gerak, musik dan nyanyian hadir hanya sebagai pengiring. Joget adalah gerak yang hadir sebagai pengiring, unsur utamanya adalah musik dan lagu atau nyanyian. Dengan demikian, semua orang pasti bisa berjoget, bisa mereka-reka gerak disesuaikan dengan irama musik. Persamaannya, baik joget maupun tari termasuk olahraga kebugaran dan keduanya dapat dinikmati sebagai tontonan yang indah dan menghibur. Bila Anda bisa menari silakan menari, bila Anda bisa joget silakan berjoget. Bila Anda tak bisa menari dan tak ingin berjoget, silakan jadi penonton, dijamin Anda pun akan memperoleh manfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar